The Renewable Energy in Netherlands

Kebutuhan akan energi dunia akan semakin besar seiring dengan pesatnya perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap terpenuhi agar roda industrialisasi terus dapat berjalan adalah ketersediaan bahan bakar untuk menggerakkan mesin-mesin yang terus berputar setiap saat. Oleh sebab itu negara-negara di dunia berusaha untuk memenuhi pasokan energi dalam negerinya agar industrinya dapat terus berjalan dan tetap bisa mendatangkan devisa bagi negara tersebut.

Kegiatan pertambangan Batu Bara di Kalimantan Selatan, Indonesia.
Batubara adalah salah satu pilihan energi alternatif yang saat ini banyak digunakan oleh industri-industri di dunia. Di Indonesia sendiri, penggunaan batu bara terus meningkat tiap tahunnya. Dalam kurun waktu 1998-2005 tercatat konsumsi batu bara dalam negeri meningkat rata-rata 13,29% per tahun dan diprediksi akan meningkat 540% yaitu dari 35,342 juta ton (2005) menjadi 191,130 juta ton di tahun 2025. Konsumsi batu bara dalam negeri ini dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, industri semen, industri tekstil, industri metalurgi, dan industri lainnya.

Tidak hanya di Indonesia, penggunaan batu bara sebagai pembangkit energi juga menjadi primadona di hampir seluruh belahan dunia. Menurut International Energy Agency (2010), Konsumsi batubara dunia akan tumbuh rata-rata 2,6 persen per tahun antara periode 2005-2015. "Jika batu bara tidak dapat diperbaharui, lantas suatu hari nanti PASTI akan tiba masanya batu bara akan habis."

The Renewable Energy in Netherlands

Belanda, melalui ECN (Energy research Centre of the Netherlands), telah merintis cara inovatif untuk mengkonversi  bio-mass menjadi bio-coal (batu bara daur ulang) dengan Torrefaction. Bio-coal adalah bahan bakar berkelanjutan yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti  bahan bakar konvensional saat ini. Torrefaction dianggap sebagai teknologi  pre-treatment untuk membuat bio-mass lebih mudah terbakar.
Torrefaction merupakan bentuk ringan dari pirolisis, dimana bio-mass dipanaskan pada suhu antara 200-300° C dalam ruangan kedap oksigen. Proses ini melepaskan senyawa organik yang mudah menguap dalam bio-mass. Senyawa tersebut berupa gas yang mudah terbakar, sehingga dimanfaatkan untuk proses pengeringan bio-mass. Tentunya proses ini sangat effisien dalam penggunaan energi (96% thermal efficiency and 92% process efficiency including electricity consumption).

Pada akhirnya, Torrefaction menghasilkan bio-coal berupa bahan bakar padat dengan tingkat kelembaban yang rendah, mudah digiling layaknya batu bara biasa, dan diklaim mudah terbakar seperti serbuk kayu. Bio-coal diharapkan dapat mengsubtitusi penggunaan batu bara yang terus mengalami peningkatan signifikan.


Belanda memang sangat inovatif dalam menghadirkan solusi. Kini teknologi torrefaction mulai dikembangkan di berbagai negara dan selaku perintis, Belanda memiliki visi 2050, akan memiliki sistem energi yang murah, dapat diandalkan, dan berkesinambungan, dimana emisi CO2 berkurang 50 persen,  40 persen listrik berasal dari sumber yang berkelanjutan dan sisanya 60 persen listrik bersumber dari gas, bahan bakar nuklir, dan pembangkit listrik tenaga batu bara dengan menggunakan Carbon Captured Stroage.
 

Saat ini, di Belanda tepatnya di Steenwijk telah berdiri Torrefaction Installation pertama di dunia yang memproduksi 90.000 tons bio-coal.

Semoga bangsa kita INDONESIA tidak kalap dengan luapan sumber batu bara. Apa yang dilakukan Belanda, setidaknya bisa membangunkan kita dari tidur yang panjang. Someday, batu bara akan habis entah besok, lusa, atau 10 tahun lagi. Jangan sampai negeri kita menjadi negara agraris yang mengimpor beras.

HAVE YOU READY TO FACE IT?

*Tulisan ini diikutkan dalam Kompetiblog 2013

0 komentar

Poskan Komentar